Ayah

Namanya Abdul Wahib. Lahir di Kunjang Kabupaten Kediri pada tanggal 10 Agustus 1960. Dari cerita yang pernah kudengar, dari kecil ayah adalah seorang yang giat tak mudah patah semangat. Desa kelahirannya yang sedikit-terpencil tidak membuat ayahku untuk begitu saja tidak bersekolah. Tanpa teman pun, ayah tetap bersekolah walau harus mengayuh sepeda jauh berkilo-kilo meter. Katanya sih ayah adalah putra kesayangan kakek nenekku, pun begitu dia tak pernah menggantungkan hidupnya dengan kakek nenek. Ceritanya nih waktu dulu jaman ayah masih bersekolah, sambil bermain, dia menggembala sapi milik kakek. Sebenarnya sapi itu memang dibelikan kakek untuk ayahku, tapi namanya anak kecil mana faham ya, kan? Baru setelah SMA, hasil sapi tersebut diberikan ke ayah oleh kakek. Nah makanya dengan sifat ringan tangannya ayah ke kakek, dulu ayah bisa membeli motor (red:75) yang dulu masih keren-kerennya itu untuk keperluan sekolahnya.

Ayahku lulusan Pesantren Tebuireng yang masih jamannya Kyai Muhammad Yusuf Hasyim. Sempat kuliah di IAIN Kediri selama satu tahun tapi karena satu dan lain hal akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah. Walau begitu ayah dulunya aktif di organisasi ke-NUan Anshor di Kecamatan Kunjang Kediri. Karena background yang begitu lah sedikit banyak memengaruhi pemikiran anak-anaknya sekarang.

Kembali lagi ke ayah sekarang. Ayah penggemar syairnya Ebit G. Ade sekaligus pencinta Rhoma Irama yang  senang sekali duduk-duduk nyemil sambil mendendangkan lagu-lagunya Bang Haji. Saat ini kesibukan ayah setiap Senin siang adalah mengikuti Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Tebuireng tepatnya di Pesantrennya Alm. Kyai Adlam ‘Ali. Kebiasaan ayah yang paling kusuka setiap sore itu mendengarkan streaming radio Kartika FM Jombang yang memutar kajian Kitab Al-hikam oleh Kyai Imron Jamil dari Tambak Beras. Ritual fafvoritku antara aku dengan ayah adalah ketika dia memintaku memijit kakinya –yang hampir setiap hari- sambil mendengarkan radio sambil sesekali  menikmati kopi bersama🙂

Bagiku ayahku adalah ayah nomor satu di dunia. Kata-katanya kerap kali menjelma menjadi peringatan sekaligus menenangkan. Apapun dilakukan untuk anak-anaknya. Dengan segala “nikmat” penyakit yang ditanggungnya, ayah masih bersikap bijak dalam apapun, walau terkadang sisi pesimis itu datang. Tapi “Allah Maha Kaya” kalo ayah sering bilang.

Ya. Aku selalu merindukan sosok pencinta kopi-tapi-dilarang-banyak-gula itu. Ayah🙂

Walau lenteraku itu telah tiada lagi dimata, di hati lah kau tetap bersemayam, Ayah..

-Lahir: 10 Agustus 1960-Wafat: 08 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s