Kapan Jogja Tidak Lagi Istimewa (?)

Bagiku ada beberapa kota yang membuatku selalu kangen. Jombang, Jakarta, Surabaya, dan yang tak kalah istimewa adalah Jogja. Daya tarik dan pukat kota ini sangat luar biasa. Bagiku pula, menginjakkan kaki di Jogja sama dengan menenggak candu kafein yang bikin kepala pusing jadi plong, hidup mlempem jadi penuh gairah, hati yang sembilu jadi begitu sumringah dan semacamnya. Aku sendiri pernah merasa “benar-benar” ke Jogja hanya dua kali saja dalam hidup.
Tapi kemudian bayangan Alun-alun kidul, Malioboro, gang-gang kecil Taman Pintar, 0 km, dan Angkringan pinggir jalan -nya itu loh menyiratkan berjuta makna keagungan Jogja (dengan segala kenangannya). Memandangi Kota Jogja juga sukses membuatku merasakan betapa adikku masih senantiasa ada di sini. Selalu saja, ketika aku kembali ke Jakarta, begitu aku melewati Stasiun Lempuyangan, pandanganku tak pernah absen menyapu ke seluruh sudut sambil mbatin, “Kapan aku bisa ke sini lagi? Aku kan dulu sudah bikin rencana main ke kosan adikku lalu melancong ke tempat-tempat sederhana yang menyenangkan bersama. Terakhir kali aku ke stasiun ini ketika.. bla bla..” dan seterusnya. Lalu ketika melewati Stasiun Tugu, kuarahkan mataku lekat-lekat ke Jalan Malioboro- walaupun cuma kelihatan “bokongnya” saja. Tak apa. Yang penting aku bisa memandanginya. Mengingatnya.
Begitu memori manis dan sendu telah terangkum di kota ini hanya dalam dua kali pertemuan.
Begitulah Jogja.
Kapan Jogja tidak lagi istimewa?
Kurasa hal itu tidak akan pernah terjadi. Setidaknya dalam hidupku.

Stasiun Lempuyangan, 7 September 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s