Ethics of Care: Suatu Upaya Memahami Lansia

SAM_1299
Dok. Pribadi

Ketika kita masih kecil dan setelah kita lanjut usia, kita sangat tergantung kepada orang-orang lain. Di antara masa itu, kita merasa bisa melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain, sehingga menganggap perhatian sesama tidak penting.Padahal dalam tahap ini perlu sekali bagi kita untuk memelihara cinta kasih yang mendalam antar sesama manusia.”Dalai Lama XIV

Konsep lansia mengalami interpretasi yang beragam. Gerontologi, ilmu yang mempelajari tentang lansia, mendefinisikan lansia mengggunakan berbagai perspektif seperti biologis, medis, antropologi, sosial, psikologi, hukum, ekonomi sehingga konsep lansia hingga kini tidak ada batasan yang pasti. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa usia lanjut meliputi: usia pertengahan (middle age) yaitu kelompok usia 45-59 tahun, lanjut usia(elderly) yaitu kelompok usia 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) yaitu kelompok usia 75-90 tahun, usia saat tua (very old) yaitu kelompok usia di atas 90 tahun.

Di berbagai negara, klasifikasi lansia bervariasi dari waktu ke waktu didasarkan pada banyak hal seperti konstruksi masyarakat. Di negara maju, misalnya Amerika, usia kronologis menjadi dominasi pemaknaan lansia misalnya pada 60 atau 65, kira-kira setara dengan usia pensiun di sebagian besar negara maju, dikatakan sebagai awal usia tua. Di negara berkembang lain, usia kronologis tidak menjadi acuan. Pemaknaan lansia cenderung kepada konstruksi sosial seperti adanya peran yang ditugaskan kepada orang-orang yang lebih tua sudah tidak mampu dijalankan karena kemunduran fisik. Yang seperti itu sudah dianggap sebagai lansia (Gorman, 2000)1. Seseorang menjadi lansia sesungguhnya merupakan suatu fenomena biologis, tetapi pengaturan tentang sistem, kedudukan (status), peranan dan fungsi sosial kelompok orang lansia dalam keluarga dan komunitas adalah konstruksi budaya. Seperti yang dikemukakan oleh P. Gulliver, pelembagaan umur membuat jelas bahwa faktor-faktor kebudayaanlah, dan bukan faktor-faktor biologis, yang terutama penting untuk menentukan status sosial (Haviland, 1985:131). Jika seorang individu telah mengalami gejala tersebut, bisa jadi oleh beberapa masyarakat, seseorang dapat dikatakan sebagai lanjut usia.

Walaupun demikian, makna lansia dapat dikaji dengan mengetahui bagaimana proses seseorang menjadi lansia. Hal ini menjadi penting untuk diketahui bahwa konsep lansia dan penuaan harus dibedakan. Lanjut usia merupakan titik di mana seseorang mencapai usia lanjut atau tahap akhir dalam perkembangan yaitu fase usia dewasa akhir2. Sedangkan oleh gerontologi, penuaan merupakan suatu proses yang menyebabkan seseorang menjadi lansia yang dibahas dengan tiga teori yaitu teori genetik yang menjelaskan bahwa didalam tubuh terdapat jam biologis yang mengatur gen dan menentukan jalannya proses penuaan. Kedua adalah teori non genetik memfokuskan lokasi di luar nukleus sel seperti organ, jaringan, dan sistem yang mengalami perubahan sehingga memicu penuaan. Yang ketiga adalah teori psikologis dimana kondisi psikologis seseorang menentukan proses penuaan. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik pengertian bahwa penuaan terjadi sepanjang perkembangan hidup manusia sehingga lansia merupakan suatu hal mutlak adanya setelah proses penuaan.

Proses penuaan yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia manusia membawa berbagai perubahan pada diri seseorang misalnya kondisi biologis dan psikologis sehingga dalam menghadapi perubahan tersebut, lansia rentan mengalami permasalahan, walaupun pproses penuaan setiap orang berbeda-beda. Salah satu permasalahan mendasar yang dialami oleh lansia adalah mendapatkan stigma masyarakat kepada dirinya. Stigma di sini diartikan sebagai suatu asumsi yang salah dari masyarakat yang dilekatkan kepada lansia. Meminjam dari kajian psikologi, asumsi yang salah tersebut menganggap bahwa lansia merupakan usia yang berpenyakitan, kemunduran pandangan dan konservatif, lansia adalah masa kedamaian dan ketenangan, senilitas atau pikun serta ketidakproduktifan3. Stigma tersebut pada akhirnya membuat lansia dikucilkan dari keluarga dan masyarakat, tidak dihargai, tidak mendapatkan perawatan, serta tidak dilibatkan ke dalam aktivitas-aktivitas sosial. Perilaku-perilaku tersebut menunjukkan suatu bentuk ketidakpedulian terhadap orang lain dimana hal ini oleh perspektif ethics of care sangat ditentang.

Ethics of care diperkenalkan oleh Nel Noddings, seorang ahli filsafat pendidikan asal Amerika lulusan Stanford University School of Education. Nel Noddings adalah seorang feminis yang menjelaskan lebih luas mengenai ethics of care dengan mengedepankan nilai-nilai yang terkait dengan perempuan. Care yang dimaksud olehnya bukanlah semata-mata pemberian cinta dan kasih sayang secara universal kepada semua orang melainkan juga care membutuhkan relationship pada individu-individu tertentu. Pendekatan Ethics of care dijelaskan dalam bentuk hubungan partikular antar individu yang oleh Nodding sebut sebagai one-caring dan caring for sehingga kepedulian tidak bisa diberikan dari jarak jauh untuk individu-individu secara umum. Sebagaimana ethics of care telah diaplikasikan pada bidang pendidikan yaitu hubungan antara guru dengan murid, Noddings meyakini bahwa kepedulian yang didasarkan pada penerimaan, keterkaitan, dan responsivitas dapat menjadi landasan yang lebih baik dan mendasar untuk etika (Noddings, 1984:2).

Lansia dapat bertahan hidup dengan perubahan segala aspek kehidupannya hanya dengan adanya dukungan dari supporting system, dalam hal ini keluarga dan masyarakat umum. Ethics of care secara partikular mengenai pemahaman lansia dapat dijelaskan dengan menekankan hubungan lansia dengan masyarakat, kesejahteraan, dan bentuk kepedulian dari masyarakat. Pendekatan ethics of care dalam upaya memahami lansia membicarakan berbagai kewajiban untuk melakukan suatu yang tepat dan menjadi landasan dalam memberikan kepedulian kepada lansia. Dalam hal ini, masyarakat berperan sebagai caring-one kepada lansia, sedangkan lansia sebagai cared-for yang menerima dan merespon terhadap apa yang diberikan oleh masyarakat sebagai suatu sistemnya. Maka masyarakat hendaknya bukan hanya menekan lansia dengan berbagai asumsi negatif tetapi juga berusaha memahami sisi lain dari lansia yaitu kebutuhan dan potensinya. Masyarakat yang dikatakan peduli adalah yang dapat menjalin relationship dengan lansia yang dilandaskan pada bentuk tanggung jawab moral, nilai emosional, serta menolak moral dominan yang membuat seseorang untuk memilah-pilih untuk peduli kepada lansia akibat stigma yang mengakar.

Bentuk tanggung jawab moral kepada lansia ditunjukkan dengan adanya kepedulian akan pemahaman kebutuhan dan masalah yang dihadapi lansia. Seseorang yang enggan untuk tahu mengenai lansia tidak akan mendapatkan pemahaman tersebut dan ikatan emosional dengan lansia akan sulit dibentuk sehingga di sini relationship harus dibangun. Pada posisi ini, ketidakpedulian terhadap lansia sangat rentan terjadi. Jika seseorang berpikir kaku tentang stigma yang memposisikan lansia sebagai orang mengalami kemunduran pemikiran, misalnya, maka tidak menutup kemungkinan orang lain akan tidak menghargai pendapat lansia. Dalam lingkup kecil, keluarga dapat mengucilkan lansia dari pengambilan keputusan dan dalam lingkup yang lebih luas contohnya adalah pembatasan lansia untuk duduk di kursi kerja atau biasa yang disebut pensiun. Pembatasan ruang gerak lansia tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk penarikan diri masyarakat dari lansia. Hal ini tidak sesuai dengan ethics of care yang tidak berusaha memahami kebutuhan lansia untuk dihargai.

Dalam masyarakat, kepedulian terhadap lansia dapat dibangun dengan memahami lansia sebagai suatu tahap tumbuh kembang manusia dimana setiap orang akan merasakannya. Selain itu, menempatkan lansia pada posisi yang sejajar layaknya manusia yang mempunyai hak merupakan sikap yang dapat diterapkan dalam upaya memahami lansia. Hal ini dapat dilakukan cara some distinction4 yaitu salah satu bentuk ethics of care dengan menjalin interkoneksi pada isu yaang ada melalui tindakan konkret seperti misalnya ketika melihat fenomena lansia terlantar, maka dilakukan sebuah kebijakan pembangunan panti tresna werdha yang bertujuan untuk mengatasi masalah lansia terlantar. Dalam bentuk some distinction, masyarakat berusaha menghubungkan dirinya dengan apa yang menyebabkan lansia terlantar misalnya turut melibakan diri sebagai tanggung jawab moral apabila melihat lansia terlantar dengan memberikan bantuan, perawatan, dan perlindungan sebagaimana kemampuannya sehingga dapat membawa perubahan yang baik kepada lansia terlantar.

Lalu jika masyarakat berlandaskan ethics of care yang dikatakan sebagai suatu sistem yang mendukung lansia, maka masyarakat harus dapat menjadi suatu cerminan kehidupan yang menunjukkan sebuah tatanan yang adil. Hal ini memberikan pengertian kepada lansia bahwa masyarakat yang adil menghargai segala bentuk potensi-potensi yang ada pada lansia untuk tetap dikembangkan seluas-luasnya sesuai dengan kemampuan. Tidak ada larangan ataupun tekanan kepada lansia dalam produktivitas sehingga lansia tetap dapat meningkatkan kapasitasnya yang berguna bagi dirinya dan lingkungannya. Hubungan caring relationship antara masyarakat dan lansia dalam hal ini sangatlah beguna. Jika masyarakat dapat memahami kebutuhan yang diperlukan, permasalahan yang dihadapi, serta potensi yang dimiliki lansia, maka lansia akan semakin dapat dengan mudah menghadapi masa usia lanjutnya sehingga terwujudnya lansia yang sejahtera.

Bukankah umur hanyalah sebuah angka?

__________

Endnote:

1 Dalam kolom “Health statistics and information systems” dengan judul Definition of an older or elderly person Proposed Working Definition of an Older Person in Africa for the MDS Projecthttp://www.who.int/healthinfo/survey/ageingdefnolder/en/

2 Menurut Havighurtst, seorang profesor dan aging expert (1961: 22) Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu,yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menentukan tugas berikutnya. Havighurtst melihat perkembangan pada usia dewasa akhir adalah menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan, menyesuikan diri dengan masa pensiun dan menurunnya penghasilan keluarga, menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup, dan menyusuaikan diri dengan peran sosial secara luwes.

3 Mubarak. 2009. Buku Ajar Ilmu Keperawaatan Komunitas 2 Teori dan Aplikasi Dalam Praktik dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan komunitas,Gerontik dan Keluarga. Jakarta: Agung Seto

4 Slote, Michael. 2007. The Ethics of Care and Emphaty. New York: Routledge Bentuk Ethics of Care yang ditulis oleh Slote ada enam yaitu taking care, some distinctions, some suggestions, care as practice, care as value, caring relations. Salah satunya adalah some distinction yaitu Merupakan suatu bentuk menjalin interkoneksi antara seseorang dengan orang lain atau isu yang ada untuk dipedulikan. kita peduli dengan perubahan iklim global, maka kita berusaha menghubungkan diri kita dengan apa yang menyebabkan perubahan iklim global yang dapat membawa perubahan pada bumi. Misalnya dengan mencoba mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan lain-lain. Inti dari poin ini adalah tindakan nyata yang dilakukan untuk menjalin hubungan dengan isu yang dinyatakan untuk diberi kepedulian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s