Surat Keempat Untuk Bapak

(Sudah 2 Tahun Lho, Pak. Lama ndak?)

Mata sunyi hati kosong
Pagiku tak pagi, siangku tak siang, malamku pun tak malam
Ada deru di batin ini
Seperti ada yang sedang terlupakan
Sadar beserta pipiku yang terlanjur basah
Maaf, Pak
Satu dua malam ku lengah menghimpun doa untukmu
Tapi tidak kali ini
Esok dan nanti

Ku awali surat ini dengan sepenggal puisi. Kuharap kau terhibur di sela doa-doa dan alfatehah yang mengalir padamu yang tentunya jauh lebih menentramkanmu di sana. Kalau pun tak terhibur, paling tidak aku bisa membayangkanmu menertawaiku, mengejek, “Opo tho ndhuk. Puisi gak penting. Aku gak tau puisi-puisian.” Sebab ku tau memang selama hidup bersamamu, tak pernah kudengar bait-bait puisi keluar dari lagu lagamu selain dendangan lagu Bang Rhoma dan Ebit G. Ade lalu beberapa tembang shalawatan dan juga tembang jawa.

Atau aku akan lebih kangen kalau kau membalas surat ini dengan, “Timbangane puisi kene loh palak pijetono bapak.”

Kepulanganmu ke rahmatullah membuatku bahagia setengah mati karena dengan begitu segala sakitmu telah diangkat sehingga aku tak perlu lagi sedu sedan tatkala menyaksikan kau merongrong kesakitan dan menderita atas penyakitmu. Kepulanganmu juga telah sukses membuatku kalang kabut setengah hidup sedihnya luar biasa karena aku sudah terlanjur merasa memilikimu sehingga untuk kehilanganmu pun terasa begitu menyakitkan kala itu. Tapi nampaknya kini aku sudah sanggup legowo pada keputusan Tuhan yang memanggilmu secepat ini. Itu pun tak lepas karena ajaran hidup yang telah kau bibit-tanamkan padaku untuk senantiasa lapang dada atas kun fayakun-Nya.

Sekarang mari memutar kembali slot memori dua tahun silam. Sudah 2 tahun lho, Pak. Dua tahun itu ya dari saya semester 2 sampai sekarang semester 6. Lama ndak? Lama, kan? Maksudku lama juga kita sudah tidak bersua. Sampai aku hampir lulus. Terakhir ya waktu bulan Januari 2013 njenengan memelukku waktu aku mau berangkat ke Jakarta. Panjenengan itu pancen ndablek. Sudah badan sedang sakit, maksa pula mengantarku ke stasiun. Jauh lho stasiun Kediri, walaupun sebenarnya kau mengantarku hanya sampai Watudhuwur[1]. Ingat ndak, Pak?

Sebenarnya aku penasaran waktu itu panjenengan pulang ke rumah gimana caranya. Lha wong badan sudah nggreges. Tapi kalau ndak nekat dan ngawur begitu ya bukan Bapak Abdul Wahib namanya!

Sudah begini, aku mau laporan nih, Pak. Ya… seperti biasa lah, lumrahnya laporan seorang anak kepada bapaknya tentang bagaimana kabar sekolahnya. Kan biasanya memang panjenengan tuh yang open bin ngereken[2] cerita-cerita dari anak-anakmu terutama cerita tentang sekolah. Ini lho kuliahku rata-rata lancar. Persoalan IPK itu lain soal, Pak. Privasi. Walaupun kalau untuk Bapak, masa datang bulanku saja bukan privasi apalagi persoalan IPK. Tapi itu gampang lah nanti aku bisikkan saja ya biar Ibu ndak dengar. Ya walaupun Ibu pasti cuek IPK itu apa, apalagi berapa. Atau ah sudahlah IPK tak penting bagiku! Jadi kubiarkan saja ocehan sampah tentang IPK apapun bentuknya. Yang mau aku ceritakan di sini adalah soal pergolakan-pergolakan pikiran yang muncul. Jadi mahasiswa itu ndak gampang ya, Pak, ternyata. Tuntutan berpikir kritis dan logis sangat membuatku meringis apalagi dari kecil kau tidak pernah menuntutku untuk mengkritisi apa yang ada di sekitarku. Hanya persoalan pelajaran Nahwu Shorof yang kuingat waktu itu tiap malam kau ajarkan tapi ndak pernah nyangkut di otakku sehingga aku hanya mengkritik “Kok susah amat. Bapak ndak enak nek njelasno pelajaran angel!.” Itu pun pasti setelah berjam-jam suntuk kau menjelaskan sampai mulut berbusa tapi tak kunjung kutangkap maknanya.

Maka tak bisa kau salahkan sepenuhnya padaku jika aku masih jahiliyyah untuk berpikir kritis. Sebagian salahmu juga kan, Pak? Ya tho? Hehe

Tapi tenang, Bapak. Kini bukan persoalan apa dan siapa yang salah. Asal kau selalu meridloiku di sini, Tuhan mungkin juga akan meridloiku (untuk belajar).

Yang ngangeni darimu selain sosok ayah, kau juga partner diskusi yang paling reachable di antara yang lain di rumah. Hingga aku menemukan teman diskusi ngalor ngidul yang melatih pikiranku untuk tetap hidup. Sini, Pak, mari kukenalkan seorang teman belajarku di sini. Sudah sejak semester 3 pertemanan kami mulai akrab. Namanya Labib. Jangan kaget kalau lihat orangnya. Postur tubuh kecil, tidak lincah, jelas jauh dari postur tubuhmu ketika muda yang kekar, berisi, dan berotot, serta berjalan gagah. Hahaha. Bukan saya bermaksud jahat padanya. Apalah arti membangus-baguskan yang tidak dan mentidak-tidakkan yang bagus, kepadamu. Tapi soal diskusi, aku jamin dia bisa diajak kompromi. Sayangnya aku belum sempat atau bahkan tidak bisa mempertemukan dia denganmu, Pak. Cukup intip saja dari sana. Bisa kan, Pak?😀

Nah soal kelanjutan ceritaku dengan dia, serahkan saja pada anakmu ini, ya. Turut doakan saja yang baik-baik dari sana layaknya ibu biasannya ngendiko-dawuhi setiap aku pulang ke rumah.

Sudah ya, Pak. Surat ke empat ku agak selow sih karena sebenarnya aku sudah lama ingin menjalin keakraban yang lebih soft denganmu sejak malaikat Izroil menjemputmu kala itu.

Wassalam..

Anak yang Berbapak🙂

[1] Sebuah desa di Kecamatan Kunjang Kabupaten Kediri. Merupakan tanah kelahiran Bapak yang sekarang rumah utama mbah kakung dan putri tersebut dihuni oleh adik laki-laki bapak yakni Lek Som.

[2] Jawa: memperhatikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s