Surat Kedua Untuk Ayah

Aku tak tau apa yang sebenarnya telah terjadi pada diriku. Benar-benar tidak tau. Semua orang melihatku muram. Semua orang mengatakan aku sendu. Dan semua orang mengatakan bahwa di wajahku selalu tergores dengan rasa sedih. Entah kesedihan macam apa yang telah menghantui hidupku hingga dampaknya begitu terasa hingga ke permukaan tubuhku.
Jika semua orang tak mengetahui, mungkin hanya aku yang faham dan mengerti. Tapi nyatanya aku pun tak mengerti perihal yang membuatku terlihat tampak bersedih. Mungkin alam telah membutakanku dari perasaan. Atau mungkin aku sendiri yang diam-diam berpura-pura tak faham.
Malam kemarin aku menangis sesenggukan. Bantalku penuh dengan ingus tangis dan isak yang terasa sesak kuhela di dada. Aku rindu ayahku lagi. Rindu sekali. Amat. Teramat rindu hingga pelupuk mata pun selalu seolah terbayang wajah tirus ayah, senyum ayah, sentuhan ayah, marah ayah, tangis ayah, paras ayah, serta bisikan-bisikan halus tentang segala kenangan aku dan ayah. Tentang dosa-dosa yang pernah kuperbuat pada ayah. Dan juga tentang hal-hal yang menggembirakan yang telah kusampaikan pada ayah.
Sungguh aku merindukan semuanya!
Aku tak tau bagaimana rinduku ini dapat mengusik raut yang tampak di wajahku. Kesedihan yang kata mereka jelas tergambar di air mukaku seolah menjadi jelmaan kerinduanku pada ayah. Atau mungkin ternyata ada yang hilang dari jiwaku bahkan hidupku.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana Labib, kekasihku, mengatakan hal ini padaku, “Mungkin ada yang hilang dari kamu. Apa kamu masih belum mencapai ikhlas buat melepas kepergian ayahmu, sayang?”
Shit! Kubilang dalam hati. Bagaimana bisa? Hingga hari ini pun aku masih tak percaya bahwa aku sudah tidak bisa lagi melihat ayahku. Oh, Tuhan. Ampuni aku yang memang seperti ini kenyataannya.
Dan ibu. Aku pun tak kuasa melihat ibuku sakit. Sendiri. Kesepian. Entah kejutan apa lagi yang Tuhan hadiahkan kepadaku. Mungkin juga keluargaku.
Bukan aku sedang mengutuk keputusanMu, Tuhan. Tapi mohon, berikan aku sedikit titik terang agar aku bisa melihat dan membaca keputusan indahMu itu.

Depok, 01 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s