Pertemuan Singkat

New-Image1

Jumat, 01 Februari 2013

Terkadang hal aneh dan unik  yang tejadi pada kita, tidak kita sadari setelah kita tahu di kemudian-

Pertemuan singkat ini sedikit banyak membuatku berfikir lama. Mungkin aku harus bersyukur atas delay 3 jam kereta dari Kediri yang kutumpangi untuk membawaku ke Jakarta. Jika tidak, barangkali aku tak akan pernah bertemu dengan orang ini. Ya. Bapak paruh baya itu menemaniku menunggu kereta kommuter di Stasiun Senen kemudian membantu membawakan tas koperku yang agak berat. Dari penampilannya memang kurang meyakinkan. Kulirik kantong plastik hitam kecil yang ada di tangannya. Seperti sebuah benda yang tidak terlalu menarik bagiku karena hampir semua tertutup warna gelap. Kuputuskan untuk tak memikirkan benda di tangannya itu dan beralih memandang wajah kriput berkacamata itu. Begitu teduh. Topi hitam kecoklatan yang melingkar di kepalanya semakin memberi kesan misterius. Satu kalimat kulontarkan membuka percakapan.

“Maaf Pak. Kommuter Depok di sebelah peron line sini kan, Pak?” Kataku sambil permisi.
“Eh, iya disini biasanya, dik. Tapi gak tau lagi kalo pintu jalur yang sini ditutup.” Katanya sambil menunjuk pintu kawat rel di ujung stasiun yang ditutup separoh.
“Dan artinya harus nyebrang di peron yang sebelah sana ya, Pak?”
“Iya. Soalnya tuh lihat orang-orang juga pada nunggunya disana, dik. Mari bapak antar.”
“Gak usah pak, terimakasih. Biar saya jalan sendiri”, sembari menyeret koper.
“Gak papa dik sini kakek bantu. Kakek juga mau naik kommuter kok. Sekalian. Sini saya bantu bawa koper. Jangan khawatir, kakek bukan orang jahat.” Ujarnya sambil melempar senyum.

Aku tak banyak komentar soal ini. Kuiyakan saja tawaran bantuannya karena memang badan sudah terasa perih kaku setelah hampir 16 jam duduk di kereta. Kemudian kami pun berjalan beriringan menuju peron seberang. Mencari tempat duduk yang pas sebelum beberapa menit kemudian kereta komuter tujuan Depok tiba. Kami pun akhirnya melangkah memasuki gerbong nomor 3 dari belakang. Selalu. Gerbong waktu itu memang lumayan sepi lengang tak banyak penumpang ketika di Stasiun Senen.
Di dalam kereta, kami bicara banyak soal pendidikan, politik, agama, Gus Dur. Entah kenapa aku begitu mempercayainya, orang yang baru kukenal beberapa menit yang lalu. Yang jelas cara bicaranya begitu kharismatik dan misterius, membekap beberapa kali perkataanku. Kudengarkan saja setiap perkataan yang keluar darinya. Kubiarkan percakapan mengalir dengan normal walau beberapa kali aku harus kembali terdiam beberapa detik mencerna kata-katanya. Begitu dingin dan dalam. Petuah-petuah diucapkannya dengan tegas layaknya sang kakek menasihati cucunya. Bebrapa guyonan kecil darinya pun lebih sering kutanggapi dengan senyum kecil. Entah, waktu itu badanku memang serasa mau lepas persendiannya sehingga kurang bersemangat menanggapi obrolan kami.
Kisahnya tentang dia yang pernah berkunjung ke pesantren Darul Ulum dan Lirboyo ketika dinas kerja semasa mudanya, lalu cerita dompetnya hilang di penginapan ketika di Kediri sedangkan dia tak membawa uang lagi sepeser pun. Beberapa terselip obrolan seputar agama. Mengenai bagaimana khalifah Abu Bakar hingga Ali Bin Abi Thalib mengenai kepiawaian tauhid dan kepemimpinanya. Yah, terdengar aneh dan kuno memang. Tapi ini lah yang memang kami perbincangkan. Aku juga tak mengerti mengapa bisa terjadi obrolan dengan topik semacam ini. Entahlah, kuikuti saja alur mainnya.
Sejenak setelah lama pembicaraan mengalir begitu renyah soal tauhid dan fiqih di kereta, sesaat sebelum kami berpisah dan sebelum beliau turun di Stasiun Kemayoran, beliau menanyakan namaku.

Dengan lantang kujawab, “Ina Pak.”

“Oh iya saya Pak Ali. Barangkali kita tak akan pernah bertemu lagi. Saya hanya berpesan seperti tadi ya Nak. Sedikit yang kita bicarakan tadi semoga bermanfaat. Saya pamit dulu.” Kata Pak Ali.

Kujawab dengan anggukan kecil dan sedikit senyum. Lalu kupandangi punggung beliau beranjak keluar dari kereta berjalan menjauh sampai ujung gang kecil dekat stasiun.
Kuputar otakku sembari memejamkan mata (entah karena lelah) mencerna pembicaraan kami beberapa menit yang lalu. Dan ternyata sampai detik ini masih ada beberapa tanda tanya yang masih harus kutemukan jawabannya.
Kupejamkan kembali mataku untuk sejenak merelaksasikan pikiran yang mungkin sedang kalut oleh lelahnya perjalanan Jombang-Jakarta.

Kubiarkan mataku terpejam dan kemudian terbenam dalam larut macam pikiran yang sedang berkecamuk dalam benakku. Kudengar suara deru mesin kereta yang semakin lama semakin lirih hingga akhirnya suara-suara itu menjadi samar sayup-sayup. Lalu hening. Mungkin kereta yang membawaku ke Depok semakin kencang melaju. Dan mungkin dalam tidurku, terbersit pikiran, semoga Tuhan mempertemukan kami kembali di lain waktu disaat yang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s