Kutemukan, Sejatinya Ayah Adalah Sosok Kartono di Hari Kartini

puisi-untuk-ayah-tercinta

“Mungkin senyum sang anak lah yang membuat senyum ayah merekah”

Selasa, 23 April 2013

Pagi yang cukup dingin dan segar setelah hujan mengguyur Jakarta cukup lama tadi malam.
Oh, sepagi ini kah aku harus bangun?

Karena ulah deadliner ku yang sulit kuenyahkan, pagi itu yang harusnya aku masih nyenyak di kasur empukku menyelinap dalam selimut karena dingin rintik sisa hujan tadi malam yang masih mengepul. Kupaksakan mataku membuka lebar-lebar dan untuk sejenak kulirik jam digital di layar poselku.

Pukul 04.30.

Ah, kuumpat kembali kebiasaan buruk begadangku yang lama menjangkit dan rasanya sulit kusembuhkan ini! Harusnya jam sekarang aku masih istirahat tidur. Garis hitam di bawah mata semakin manampak oleh kerasnya tubuh yang hampir tiap hari tak kunjung merebah istirahat semalaman hingga larut jam 02 dini hari. Entah salah siapa, sejak semester 2 ini jam tidurku menjadi tak teratur.

Salahmu lah! (Perang batin terjadi menyatakan kambinghitam atas diriku sendiri).

Kubuka selimut tebal hangatku lalu berjalan keluar kamar sembari celingukan barangkali sudah ada makhluk yang bertengger di depan televisi ruang tengah. Kuamati ruang tengah dengan mata seperempat terbuka dan tak kudapati seorang makhluk pun ada disitu. Ya memang biasanya kakak sepupu atau anak-anaknya selalu stay on di depan televisi tiap pagi. Dan baru kusadari kalau jam masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Pantesan. Batinku.

Baiklah. Setelah cuci muka dan wudlu, aku berbalik kembali ke kamar untuk melanjutkan tugas kuliah yang super deadline karena jam pertama nanti harus dikumpulkan. Pikiran salah menyalahkan kembali berkecamuk di kepalaku yang diperankan oleh id dan superego yang tak hentinya mempersoalkan paradoks mengapa aku deadliner! Oh kuputuskan untuk mengabaikan keduanya karena syukurlah ego ku pagi itu sedang memihakku.

Kukerjakan sisa-sisa tugas yang terbengkalai semalam dengan cepat dan tik.. tik.. tik.. sret.. sret.. selesai juga. Fiuhh! Seengah jam waktu yang cukup singkat untuk sekedar melengkapi dan mengedit makalah. Oke itu berarti jam menunjukkan pukul 05 pagi. Kurebahkan tubuhku kembali sesekali mata sepoi-sepoi terpejam hingga akhirnya aku tersadar aku tertidur untuk beberapa saat lamanya. Kulihat jam di dinding dan wooow jam 05.30! Oh kupaksa kembali tubuh ini beranjak dan mengambil air wudlu dan kemudian sholat subuh di waktu yang hampir akhir.
Yaa tertidur semacam pagi itu memang sering terjadi padaku dan aku tak tahu, entah sifat malasku yangs emakin menjadi atau aku terlalu neriman untuk menjadi pesakitan deadliner yang hampir tiap hari begadnag sehingga bangun kesiangan.

Bergegas setelah sholat aku turun ke lantai bawah untuk melakukan serentetan aktivitas rumah tangga yang biasa kulakukan dirumah (menyapu halaman dan dalam rumah). Ternyata mbak Nunik, kakak sepupuku, tengah sibuk menyiapkan kostum dan alat make-up. Sebelumnya mari kuceritakan bahwa di rumah kakak sepupuku ini, dibuka salon sejak lama sejak masa muda Budhe yang telah tiada sekarang. Dan usaha salon ini diteruskan oleh anaknya, yaitu mba nunik ini.

Tanpa bicara banyak aku pun faham, hari ini adalah hari kedua setelah hari kartini kemarin. Tapi orderan make-up anak-anak masih saja ada. Kusapu sedikit-sedikit lantai ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang salon dan make-up sebelum si klien datang untuk menagih ordera make-up nya. Sembari sedikit berbincang dengan mba Nunik, kuperhatikan pintu salon yang telah dibuka pertanda sudah bisa dimulainya aktivitas make-up.

Beberapa kemudian kudapati seorang bapak membawa tas punggung kecil anaknya yang di bahunya bersama dengan seorang gadis kecil -kutaksir dia masih TK- setengah berlari menuju salon ini. setengah takut terlambat mungkin karena anaknya akan mengikuti pawai hari kartini yang diadakan sekolahnya. Bapak itu berpakaian seadanya dengan kaos dan celana sedengkul dengan sandal jepitnya yang sudah lusuh. Sedangkan gadis kecil yang digandenganya telah rapi dan segar pertanda sudah mandi. Yang membuatku tertegun, mungkin dilihat dari penampilannya bapak itu bukan orang yang berada. Dia rela belum bersiap apa-apa dengan pakaian lusuh asalkan putri kecilnya segera dapt tampil cantik di hari parade kartini hari itu. Ini ayah! Seorang yang mungkin kebanyakan akan enggan untuk melakukan ini, pergi ke salon mengantarkan anaknya hanya untuk berdandan.
Sejenak kuingat ayahku di rumah. Sejenak pula kukembalikan memoriku waktu kecil adakah momen dimana ayah bersedia melayaniku apa kemauanku saat aku masih kecil. Kuputar kembali semuanya, dan bayangan segala tentang ayah berkelebat. Membuat kenangan kasih sayang ayah begitu tiba-tiba mencuat jelas di pagi itu. rindu. Oh betapa aku merindukan sosok ayah dalam situasi kemanjaan masa kecilku.
Kupandangi sosok bapak-anak itu hingga tiba di ujung pintu masuk.

“Permisi mbak, udah bisa make-up?” Tanya sang Bapak.
“Sudah pak sudah. Mari silakan masuk.” Jawab mba nunik sambil menyiapkan kursi.

Mualilah si gadis kecil itu duduk untuk di make-up. Kulihat bapaknya yang menemani tengah memperhatikan anaknya sedang dirias dan akan menjadi sosok peri kecil yang melebarkan senyumnya di parade kartini di hari emansipasi wanita ini. Bapak itu dengan senyum kecil memandangi putrinya sambil berkata “Duh, cantiknya putriku”. Terus aja si bapak dengan mata yang sedikit berkaca memandangi putri kecilnya itu. mungkin dia sedang berpikir, bahwa apapun yang terjadi pahit dalam dirinya, putrinya itu tetaplah mendapatkan kebahagiaan layaknya anak lain dengan memainkan peran di hari kartini itu.

Hatiku berdesir. Mataku memanas. Tiba-tiba air mata meleleh di pipiku, beringsut semakin lama semakin deras. Aku menangis. Sekali lagi aku menagis. Melihat betapa seorang ayah tanpa banyak para anak yang menyorot perlakuan kasih sayang kepada anaknya. Tanpa kata-kata, ayah sebenarnya telah langsung memberikan semuanya kepada anaknya. Dengan cara yang elegan namun dalam. Sejenak kupikirkan pula bagaimana perasaannya kelak jika saat putri yang selama ini dirangkul dan disandingnya sudah waktunya menikah dengan laki-laki lain yang akan membawanya pergi dari dekapan sang ayah. Kupastikan tiada terkira kesedihan yang sebenarnya tereduksi itu memenuhi rekung hati seorang ayah. Kuingat ayahku dirumah yang semakin aku bertambah hari disini, ayah disana juga semakin menua.

Kuseka air mataku diam-diam. Kuperhatikan lagi ayah-anak itu. kegembiraan jelas nampak di wajah sang ayah ketika putri kecilnya selesai make-ip. Itu artinya sebentar lagi putrinya akan mengikuti aprade hari kartini dengan teman-temannya bersama senyum ceria yang akan selalui mengembang. Mungkin hanya itu sbenarnya yang diinginkan sang ayah. Melihat anaknya tersenyum senang di hidupnya. Ya. Hanya senyum dan kebahagiaan sang anak lah sejatinya orang tua itu bahagia.

Stelah kurang lebih satu jam, rias pun selesai. Ayah-anak itu meninggalkan salon kami dengan senym sumringah yang akan mengikuti parade kartini yang paling ditunggu-tunggu oleh anaknya. Tetap dengan sang ayah yang menggandeng tangan mungil putrinya itu sambil membawa tas punggung kecil milik anaknya.

Kurenungi pemandangan yang beberapa saat kutangkap.
Oh ayah,sebegitunya ya sejatinya orang tua terhadap anaknya. Seperti tak mengenal lelah dan batas.
Ah, ayah selalu menyembunyikan semua mutiara kasih sayangnya di mata anak-anaknya. Justru dengan cara elegannya itu yang membiarkan anak-anaknya menyadari akan betapa berharganya keberaadaan ayah dalam hidup. Hari itu, baru kusadari kerinduanku akan ayahku semakin membuncah. Ingin sekali aku datang ke pelukannya sambil mencium punggung tangannya. Aku merindukannya. Sangat. Sebersit kemudian ingat keburukanku akan deadliner yang selama ini kupelihara disini. Ada sebentuk rasa bersalah. Bersalah karena merasa telah mengkhianati pengorbanan dan kasih sayang ayah dan ibu dengan membiarkan kelalaian dan pesakitan kebiasaan buruk bersarang di diri ini. kuingat kembali perbuatanku yang suka malas bangun tidur dan bekerja keras layaknya yang dilakukan ayah ibu di rumah. Oh aku semakin merindukannya ditengah guncangan kehambaran rasa bersalah ini.

Kuputuskan untuk memencet tombol nomor telepon ayah. Sesaat lalu kudengar suara sayup-sayup sambil batuk itu. Kuucapakan selamat hari kartini untuk ibu, dan selamat hari kartono untuk ayah. Bahwa kau sejatinya adalah Kartono yang tangguh dalam hidupku yang baru kudapati di hari kartini ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s